Sabtu, 01 September 2018

Merendahkan Ego Diri Sendiri

Ustaz Abdul Somadf (UAS) saat memberikan ceramah. Sumber: Internet

Kajian Islam oleh Ustaz Abdul Somad
Ceramah di Masjid Habiburrahman Kota Dumai

Setelah lima hari bekerja Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, maka dihari libur kita mau membalaskan sakit hati dengan tidur di pagi hari. Lalu menurut keinginan kita Saya mau bangun diantara pukul 08.00 WIB hingga pukul 09.00 WIB,begitulah keinginan kita. Tapi Allah SWT mengatakan “Enggkau mesti bangun Subuh.” Maka yang mau kita ikuti keinginan kita atau keinginan Allah? Ketika kita mengalahkan keinginan kita, yang kita perturutkan keinginan Allah. Itulah yang disebut dengan Islam.
Istislam, berserah atas kehendak Allah SWT. Ketika kita maunya makan, tapi Allah mengatakan “Jangan kau makan, haram kau makan.” Maka saat itu ada dua keinginan, yaitu keinginan kita dan keinginan Allah. Kalahkan keinginan kita, kita ikutkan kehendak Allah. Maka saat itu, kita sedang melakukan Islam, Istislam orangnya bernama muslim. Berserah diri kepada Allah SWT, mengalahkan keinginan nafsu.
Pergi kita ke pasar, disaat perjalanan kita tampak perempuan yang cantik. Nah ini yang berat. Keinginan kita ingin memandang, tapi Allah mengatakan “Robbulbashar, tundukkan pandangan.” Yang kita perturutkan keinginan Allah atau keinginan kita? Maka ada sebagian orang memainkan Ayat Allah SWT untuk memperturutkan kehendak kita dan itulah yang paling jahat. Misal ada orang bilang “Kenapa tak kau lihat? Itukan ciptaan Allah, jadi harus dilihat, harus dipandang.” Lalu keluarlah pujian dengan ucapan Subhanallah, Masyaallah,   Tabarakaallah.
Yuharrifunal kalima’an maudli’ihi, tidak menempatkan kalimat pada tempatnya. Kalau sekedar memperturutkan hawa nafsu, mengalahkan kehendak Allah. Satu dia salah, tapi ia sudah melakukan dua kesalahan, yaitu dia pakaikan dalil-dalil firman Allah SWT untuk memperturutkan hawa nafsu.
Maka pokok pangkal induk dari segalanya adalah Ittibaul hawaMemperturutkan hawa nafsu.” Maka Allah berkata dalam Alquran Wa amma man khofa maqoma robbihi,  siapa yang takut kepada Allah.” Buah dari takut kepada Allah yaitu wa nahan-nafsa ‘anil-hawa, melawan hawa nafsu (QS An-Naziat: 40).” Selama hayat masih dikandung badan dan hayat masih hidup, jantung masih berdetak, darah masih mengalir maka disitu ada hawa dan nafsu dan disitu ada setan masuk.
Setan menggoda ketika manusia sedang bernafsu. Jika tidak ingin digoda oleh setan, maka hilangkanlah hawa nafsu. Kapan itu? yaitu ketika mati. “Aku akan goda mereka selama ruh masih ada di dalam jasad mereka.” Kita disuruh menghormati orang tua, tapi hawa nafsu mengatakan ini orangtua harus cepat mati. Supaya hartanya cepat kita warisi. Maka banyak anak-anak dia kalahkan kehendak Allah dan memperturutkan hawa nafsunya sehingga orangtuanya dibunuh sebelum tiba masanya.
Maka dalam agama Islam, Allah SWT memberikan nama Al-yauma akmaltu lakum diinakum wa atmamtu alaikum nimati, hari ini kusempurnakan agamamu, aku lengkapkan nikmat.” Tapi ada nikmat yang paling lengkap yaitu Waradhiitu lakumul islaamadiinan, aku beri kalian agama Islam (QS Al Maa’idah:3).” Makanya Allah marah ketika Nabi Ibrahim AS dikatakan Yahudi atau Nasrani. Maka Allah bantah dalam Alquran yaituMaakaana ibraahiima, yahuudiyan, walaa nasraaniyan, walaakin kaana haniifan musliman, wamaa kaana minal musrikiin, Ibrahim bukan Yahudi, bukan Nasrani. Tapi Ibrahim itu condong kepada kebenaran (QS Ali-Imraan:67).”
Musliman inilah sifat Ibrahim, yaitu berserah diri kapada kehendak Allah. Kehendak dia ingin menggendong anak, ingin anak ini besar bersama dia. Tapi Allah berkehendak “Ini anak sembelih.” Maka ibrahim memilih kehendak Allah. Dia bawa anaknya ketempat penyembelihan, tepatnya di samping jabal, disamping jumrah ula, jumrah muqobah, tepat ditembok tepi kerajaan, disatu tiang berwarna putih. Disitulah tempat Ibrahim membawa anaknya. Hajar dengan keperempuanannya, dengan jiwanya, dia tidak ingin, “Ibrahim suamiku, dia milik aku.” Tapi Allah berkata “Kalau kau ingin mendapatkan ridhoku, wahai Hajar, wahai Sarah (istri Nabi Ibrahim yang divonis mandul), mesti dia harus berbagi. Walau sebenarnya Ibrahim tidak ingin berbagi, tapi Allah menguji.
Jadi saat itu sebenarnya apa yang diinginkan Allah? Sarah yang bisa mengalahkan ego pribadinya, maka ia rela berbagi dengan Hajar, wanita sholehah. Lahirlah laki-laki dalam rahim Sarah yaitu Ismail. Dari kedua orang wanita sholehah ini, lahirlah para nabi-nabi. Ibrahim punya anak namanya Ishaq, Ishaq punya anak namanya Yaqub. Yaqub punya anak namanya Yusuf. Yusuf punya anak. Sampai Keturunan dari Ismail untuk seterusnya sampai Sayyidina Muhammad SAW. Ibrahim, Ismail, Ishaq, Sarah, Hajar adalah orang-orang yang mampu merendam keinginan diri tunduk dan patuh kepada kehendak Allah swt. Ini harta saya, yang mencari saya, sampai menitikkan air mata, jadi mesti saya simpan. Tapi Allah mengatakan “Keluarkan”.
Maka orang-orang yang mampu mengalahkan hawa nafsunya tidak akan berkelahi. Kalau ada orang Islam mengaku muslim, masih memperturutkan kehendak dia, bukan kehendak Allah, maka dia belum muslim. Maka perturutkanlah kehendak Allah. Ketika bersatu kehendak Allah dengan kehendak engkau, maka disaat itulah engkau mendapatkan Taufiq. Simbol-simbol Islam jangan hanya dijadikan rutinitas tapi harus hijrah kedapa Allah. Berserah diri kepada Allah, bagaimana? yaitu dijaganya sama Allah.
Setelah kita perturutkan kehendak Allah, kita hindarkan keinginan kita. Disaat itulah amal balasan. Khofa maqoma robbihi wanahannafsa ‘anil hawa, takut dia makam kedudukan Allah, dilawan hawa nafsunya (QS An-Naziat:40)”. Apa balasannya? Fa’innal jannata hiya ma’wa, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya) [QS An-Naziat:41]. Kenapa mesti ada keinginan kita, hawa nafsu, ada setan, dan ada iblis? Ini ujian. Kenapa mesti ada ujian? Kalau tak ada ujian, maka tidak ada naik kelas. Makin tinggi hawa nafsunya, makin tinggi cobaannya, maka makin tinggi pula derajat yang diberikan oleh Allah.
Nanti ada orang-orang yang dicari oleh Allah. Apa kata Allah? “Mana orang yang dulu berkasih sayang karena Aku? Kita akan dicari oleh Allah, untuk diberi naungan-naungan di padang mahsyar yang panas. Oleh sebab itu berkawanlah yang tak lekang oleh panas, tak lapuk  kerena  hujan. Kenapa? karena kita berkawan karena Alaihayanahya dengan itu kita hidup waalaihayamutu dengan itu kita mati, wabihannaba’tsu dengan itu kita dibangkitkan. Latafta’un, tertulis di dinding prasasti Hadis Ahmad bin Hammbal dalam kitab Musnat. 
Lataftaunnalkontantiniya “Kalian aku akan bebaskan Konstantinopel. Satu kota diberi nama kota Konstatinopel yang didirikan oleh Kaisar Konstantin, dan nabi 700 tahun sebelumnya sudah berkata “kalian akan membebaskan Konstatinopel,”. Walanikmal ammiru anniruha “Sebaik-baiknya panglima perang, dialah yang membebaskan Kontatinopel”, Walanikmal jaisul jalaikal jais “dan sebaik-baiknya pasukan adalah pasukan yang membebaskan kota itu,”.
Berlomba-lomba orang ingin membebaskan Konstatinopel, tapi tidak terwujud sampai tiba datang seorang laki-laki bernama Muhammad Al-Fatih. Tahun 1453-1924, selama 471 tahun Islam berkuasa memegang kota Kontatinopel dirubahnya menjadi Istanbul dan sekarang ada satu janji nabi yang belum terwujud yaitu Roma yang merupakan simbol dari Eropa “Kalian akan menguasai Eropa,”.
            Timbul pertanyaan, apakah negeri Indonesia akan tetap menajadi Islam? Bisa, jika di negara kita mendirikan sekolah-sekolah Islam?


                      *Telah terbit pada Majalah 104 LPM Gagasan UIN Suska Riau

Tidak ada komentar:

Posting Komentar