 |
| Ustaz Abdul Somadf (UAS) saat memberikan ceramah. Sumber: Internet |
Kajian Islam oleh Ustaz Abdul Somad
Ceramah di Masjid Habiburrahman Kota Dumai
Setelah
lima hari bekerja Senin,
Selasa,
Rabu,
Kamis,
Jumat,
maka
dihari
libur kita mau membalaskan sakit hati dengan tidur di pagi hari. Lalu menurut keinginan kita “Saya mau bangun diantara pukul 08.00 WIB hingga pukul 09.00 WIB,” begitulah keinginan kita. Tapi
Allah SWT
mengatakan “Enggkau mesti
bangun Subuh.” Maka yang mau
kita ikuti keinginan kita atau keinginan Allah? Ketika kita mengalahkan
keinginan kita, yang kita perturutkan keinginan Allah. Itulah yang
disebut dengan Islam.
Istislam,
berserah atas kehendak Allah SWT.
Ketika kita maunya makan, tapi Allah mengatakan “Jangan kau makan, haram kau
makan.”
Maka saat itu ada dua keinginan, yaitu keinginan kita dan keinginan Allah. Kalahkan
keinginan kita, kita ikutkan kehendak Allah. Maka saat itu, kita sedang
melakukan Islam, Istislam
orangnya bernama muslim. Berserah diri kepada Allah SWT, mengalahkan
keinginan nafsu.
Pergi kita
ke pasar, disaat perjalanan kita tampak perempuan yang
cantik. Nah ini yang berat.
Keinginan kita ingin
memandang,
tapi Allah mengatakan “Robbulbashar,
tundukkan pandangan.”
Yang kita perturutkan keinginan Allah atau keinginan kita? Maka ada sebagian
orang memainkan Ayat
Allah SWT
untuk memperturutkan kehendak kita dan itulah yang paling jahat. Misal ada orang bilang
“Kenapa tak
kau lihat? Itukan
ciptaan Allah, jadi harus dilihat, harus dipandang.” Lalu keluarlah
pujian dengan ucapan Subhanallah,
Masyaallah, Tabarakaallah.
Yuharrifunal kalima’an
maudli’ihi, tidak menempatkan kalimat pada
tempatnya. Kalau
sekedar memperturutkan hawa nafsu, mengalahkan kehendak Allah. Satu dia salah,
tapi ia sudah melakukan dua kesalahan, yaitu dia pakaikan dalil-dalil firman
Allah SWT
untuk memperturutkan hawa nafsu.
Maka pokok
pangkal induk dari segalanya adalah Ittiba’ul hawa
“Memperturutkan
hawa nafsu.”
Maka Allah berkata dalam Alquran “Wa amma man khofa maqoma robbihi,
siapa yang takut kepada Allah.” Buah dari takut kepada Allah yaitu wa
nahan-nafsa ‘anil-hawa, melawan
hawa nafsu (QS An-Naziat:
40).” Selama hayat masih dikandung badan dan
hayat masih hidup, jantung masih berdetak, darah masih mengalir maka disitu ada
hawa dan nafsu dan disitu ada setan masuk.
Setan
menggoda ketika manusia sedang bernafsu. Jika tidak ingin digoda oleh setan,
maka hilangkanlah hawa nafsu. Kapan itu? yaitu ketika mati. “Aku akan goda mereka selama ruh
masih ada di dalam jasad mereka.”
Kita disuruh menghormati orang tua, tapi hawa nafsu mengatakan ini orangtua
harus cepat mati. Supaya hartanya cepat kita warisi. Maka banyak anak-anak dia kalahkan
kehendak Allah dan memperturutkan hawa nafsunya sehingga orangtuanya dibunuh
sebelum tiba masanya.
Maka dalam
agama Islam,
Allah SWT
memberikan nama “Al-yauma akmaltu lakum
diinakum
wa atmamtu ‘alaikum ni’mati, hari ini
kusempurnakan agamamu, aku lengkapkan nikmat.” Tapi ada nikmat yang paling lengkap yaitu
“Waradhiitu lakumul islaamadiinan,
aku
beri kalian agama Islam (QS Al
Maa’idah:3).” Makanya Allah marah ketika Nabi Ibrahim AS
dikatakan Yahudi atau Nasrani. Maka
Allah bantah dalam Alquran yaitu “Maakaana ibraahiima, yahuudiyan,
walaa nasraaniyan, walaakin kaana haniifan musliman, wamaa kaana minal
musrikiin, Ibrahim bukan Yahudi, bukan Nasrani.
Tapi Ibrahim itu condong kepada kebenaran (QS Ali-Imraan:67).”
Musliman
inilah sifat Ibrahim, yaitu berserah diri kapada kehendak Allah. Kehendak dia
ingin menggendong anak, ingin anak ini besar bersama dia. Tapi Allah
berkehendak “Ini anak sembelih.”
Maka ibrahim memilih kehendak Allah. Dia bawa anaknya ketempat penyembelihan, tepatnya di samping
jabal, disamping jumrah ‘ula,
jumrah muqobah, tepat ditembok tepi kerajaan, disatu tiang berwarna putih.
Disitulah tempat Ibrahim membawa anaknya. Hajar dengan keperempuanannya, dengan
jiwanya, dia tidak ingin, “Ibrahim suamiku, dia milik aku.” Tapi Allah
berkata “Kalau
kau ingin mendapatkan ridhoku, wahai Hajar, wahai Sarah (istri Nabi Ibrahim yang divonis mandul), mesti dia harus
berbagi.” Walau sebenarnya
Ibrahim tidak ingin berbagi, tapi Allah menguji.
Jadi saat
itu sebenarnya apa yang diinginkan Allah? Sarah yang bisa mengalahkan ego
pribadinya, maka ia rela berbagi dengan Hajar, wanita sholehah. Lahirlah
laki-laki dalam rahim Sarah yaitu Ismail. Dari kedua orang wanita sholehah ini,
lahirlah para nabi-nabi. Ibrahim punya anak namanya Ishaq, Ishaq punya anak
namanya Yaqub. Yaqub punya anak namanya Yusuf. Yusuf punya anak. Sampai
Keturunan dari Ismail untuk seterusnya sampai Sayyidina Muhammad SAW. Ibrahim,
Ismail, Ishaq, Sarah, Hajar adalah orang-orang yang mampu merendam keinginan
diri tunduk dan patuh kepada kehendak Allah swt. Ini harta saya, yang mencari
saya, sampai menitikkan air mata, jadi mesti saya simpan. Tapi Allah mengatakan
“Keluarkan”.
Maka
orang-orang yang mampu mengalahkan hawa nafsunya tidak akan berkelahi. Kalau
ada orang Islam
mengaku muslim, masih memperturutkan kehendak dia, bukan kehendak Allah, maka
dia belum muslim. Maka perturutkanlah kehendak Allah. Ketika bersatu kehendak
Allah dengan kehendak engkau, maka disaat itulah engkau mendapatkan Taufiq.
Simbol-simbol Islam
jangan hanya dijadikan rutinitas tapi harus hijrah kedapa Allah. Berserah diri
kepada Allah, bagaimana? yaitu dijaganya sama Allah.
Setelah
kita perturutkan kehendak Allah, kita hindarkan keinginan kita. Disaat itulah
amal balasan. “Khofa maqoma robbihi wanahannafsa ‘anil
hawa, takut dia makam kedudukan Allah, dilawan
hawa nafsunya (QS An-Naziat:40)”.
Apa balasannya? “Fa’innal jannata hiya ma’wa, maka
sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya) [QS An-Naziat:41].” Kenapa
mesti ada keinginan kita, hawa nafsu, ada setan, dan ada iblis? Ini ujian. Kenapa
mesti ada ujian? Kalau tak ada ujian, maka tidak ada naik kelas. Makin tinggi
hawa nafsunya, makin tinggi cobaannya, maka makin tinggi pula derajat yang
diberikan oleh Allah.
Nanti ada
orang-orang yang dicari oleh Allah. Apa kata Allah? “Mana orang yang
dulu berkasih sayang karena Aku? Kita akan dicari oleh Allah, untuk diberi
naungan-naungan di padang
mahsyar yang panas.
Oleh sebab itu berkawanlah yang tak lekang oleh panas, tak lapuk kerena
hujan. Kenapa? karena kita berkawan karena Alaihayanahya dengan itu kita hidup waalaihayamutu dengan itu kita mati, wabihannaba’tsu dengan itu
kita dibangkitkan. Latafta’un, tertulis
di dinding prasasti Hadis
Ahmad bin Hammbal dalam kitab Musnat.
Lataftaunnalkontantiniya
“Kalian aku akan bebaskan Konstantinopel. Satu kota diberi nama kota
Konstatinopel yang didirikan oleh Kaisar Konstantin, dan nabi 700 tahun
sebelumnya sudah berkata “kalian akan membebaskan Konstatinopel,”. Walanikmal ammiru anniruha
“Sebaik-baiknya panglima perang, dialah yang membebaskan Kontatinopel”, Walanikmal jaisul jalaikal jais “dan
sebaik-baiknya pasukan adalah pasukan yang membebaskan kota itu,”.
Berlomba-lomba
orang ingin membebaskan Konstatinopel, tapi tidak terwujud sampai tiba datang
seorang laki-laki bernama Muhammad Al-Fatih. Tahun 1453-1924, selama 471 tahun Islam berkuasa
memegang kota Kontatinopel dirubahnya menjadi Istanbul dan sekarang ada satu
janji nabi yang belum terwujud yaitu Roma yang merupakan simbol dari Eropa “Kalian akan menguasai
Eropa,”.
Timbul
pertanyaan, apakah negeri Indonesia akan tetap menajadi Islam? Bisa, jika di
negara kita mendirikan sekolah-sekolah Islam?
*Telah terbit pada Majalah 104 LPM Gagasan UIN Suska Riau